hukum jual beli saham ustadz erwandi
ekonomiislam - hukum jual beli saham - ustadz dr erwandi tarmizi, m a 2.600 triliun rupiah, inilah nilai kapitalisasi pasar saham syariah yang tercatat di bursa efek indonesia. saham syariah bahkan ekonomi islam - hukum jual beli saham - ustadz dr erwandi tarmizi, m a. Jual Beli Saham Dalam Islam News Update. 36.
JenisJenis Gharar dan Contohnya. #1: Ma'dum, Membeli Barang yang Belum Ada. #2: Jual Beli Barang yang Tidak Jelas Sifatnya. #3: Jual Beli Barang yang Tidak Bisa Kita Serah Terimakan. #4: Jual Beli Tanpa Kejelasan Harga. Jual Beli Gharar yang Diperbolehkan. Gharar yang Masih Diperselisihkan. Kenali dan Pahami Istilahnya.
Betulkahjual beli saham itu haram? Dewan Syariah Nasional Majelis Ulama Indonesia (DSN MUI) sudah mengeluarkan fatwa mengenai jual beli saham syariah. Fatwanya sudah ada sejak 2011, yang bertajuk Fatwa DSN Nomor 80/DSN-MUI/III/2011 tentang Penerapan Prinsip Syariah Dalam Mekanisme Perdagangan Efek Bersifat Ekuitas di Pasar Reguler Bursa Efek
UstadzErwandi Tarmizi Sabtu, 29 Shafar 1442H/17 Oct 2020 Pengantar Fiqih Muamalah dan Aplikasinya dalam Ekonomi Modern oleh Dr Yusuf Al Subaily. Hukum Bai' Jual beli saham jika perusahaannya tidak menjual barang yang haram dan tidak memiliki pinjaman ribawi, maka halal dibeli sahamnya.
Hukumjual beli kredit dijelaskan oleh Ustadz Erwandi Wednesday,20 Sya'ban 1443 / 23 March 2022 Jadwal Shalat. Mode Layar. Al-Quran Digital. Indeks. Networks retizen.id repjabar.co.id repjogja.co.id. Kanal News. Politik Hukum
Il Est Des Rencontres Qui Changent La Vie. Alhamdulillah, shalawat dan salam semoga senantiasa dilimpahkan kepada Nabi Muhammad SAW, keluarga, dan sahabatnya. Bicara soal saham, halal atau haram? Bisa jadi banyak dari kita masih bingung masalah kepastian hukumnya dalam islam. Kita tidak akan bisa mengerti dengan benar bagaimana hukumnya, maka kita ketahui terlebih dahulu apa itu saham? Saham adalah kepemilikan seseorang dalam suatu perusahaan. Yang diwujudkan dalam selembar kertas yang menerangkan bahwa pemilik lembar saham adalah pemilik perusahaan yang menerbitkan surat berharga ini. Sehingga seseorang yang membeli saham mereka dikatakan telah melakukan investasi pada perusahaan. Dalam islam, investasi merupakan tindakan bisnis yang halal dan dapat dibenarkan, selagi tata cara atau aturan sesuai yang diajarkan dalam Al- Qur’an dan hadist. Boleh saja melakukan transaksi jual beli saham, tetapi memang dasarnya perusahaannya ada, produknya ada, bukan hanya sekedar simbolik. Jika hanya sekedar simbolik tidak diperbolehkan. Membeli saham dalam islam dibolehkan, jika itu real. Ajaran islam melarang transaksi yang tidak kelihatan. Jadi sistem itu ada syarat sendiri, yaitu sistemnya jauh dari manipulasi, kezhaliman, dan riba. Produknya pun juga begitu, jauh dari bahan yang haram Jadi transaksi jual beli yang dilakukan dengan syar’i hukumnya halal, termasuk ketika kita berinvestasi pada bisnis jual beli produk atau jasa. Adapun menurut pendapat Dr. Wahbah al Zuhaili dalam Al Fiqh Al-Islami wa Adillatuhu “Bermuamalah dengan melakukan kegiatan transaksi atas saham hukumnya adalah boleh, karena si pemilik saham adalah mitra dalam perseroan sesuai dengan saham yang dimilikinya. “ “Bermusahamah saling bersaham dan bersyarikah kongsi dalam bisnis atau perusahaan tersebut serta menjualbelikan sahamnya, jika perusahaan itu dikenal serta tidak mengandung ketidakpastiaan dan ketidakjelasan yang signifikan, hukumnya boleh. Hal itu disebabkan karena saham adalah bagian dari modal yang dapat memberikan keuntungan kepada pemiliknya sebagai hasil dari usaha perniagaan dan manufaktur. Hal itu hukumnya halal tanpa diragukan. ” Apakah semua saham halal? Ya, semua saham halal. Walaupun dikatakan saham halal, tapi bisa juga perusahaan yang menerbitkan saham itu tidak halal. Dalam pasar modal, biasanya saham yang dikatakan haram dibahasakan dengan “ saham konvensional” sedangakan untuk saham yang halal dibahasakan dengan “ saham syariah”. Jadi jika kita memilih saham halal kita harus memilih akun syariah. Saham yang halal adalah kegiatan bisnisnya tidak bertentangan dengan syariat islam. Adapun produknya, cara menjual atau metode transaksinya dan sebagainya.
Sahnya Jual Beli Secara Syar’i Ustadz Dr Erwandi Tarmizi ITB2020 Mengaji 24 Oktober 2020Merujuk pada kitab Fiqih Perbankan Syariah, Pengantar Fiqih Muamalah dan Aplikasinya dalam Ekonomi Modern oleh Dr Yusuf Al Subaily🔘Rukun Bai’ 1. Pelaku transaksi penjual dan pembeli 2. Objek transaksi harga dan barang 3. Akad transaksi segala tindakan yang dilakukan kedua belah pihak yang menunjukkan mereka sedang melakukan transaksiTerdapat perbedaan mengenai rukun jualbeli dalam buku fiqih dan hadist dimana dalam hadist tidak terdapat rukun jualbeli, sedangkan dalam buku fiqih terdapat rukun dan adanya rukun dan syarat dalam buku fiqih adalah untuk memudahkan pemahaman dimana seluruh rukun dan syarat tersebut diambil dari hadist mengenai jualbeli.🔘Perbedaan rukun dan syaratRukun dan syarat jika tidak dilakukan maka menyebabkan sebuah ibadah tidak sah dan tidak rukun dan syarat dalam sholat⚫️Rukun – jika tidak melakukan rukun maka tidak sah solatnya. – contoh rukun solat berdiri, takbiratul ihram, membaca Al Fatihah, ruku, bangkit dari ruku disertai itidal, sujud, duduk antara dua sujud, dst – ketika rukun solat ada yang ditinggalkan dalam sebuah rakaat solah, maka rakaatnya batal dan wajib mengulang rakaat yang tidak sempurna tersebut baru kemudian di akhir melakukan sujud syahwi – Jika solat tidak sah, maka wajib melakukan solat kembali⚫️ Syarat – syarat bukan merupakan bagian dari solat – tapi jika syarat tidak dipenuhi, maka juga tidak sah solatnya – syarat harus ada dari awal hingga akhir ibadah dilakukanRukun dan syarat ini juga berlaku dalam jualbeli. – jika tidak melakukan rukun dalam jualbeli, maka tidak sah transaksinya. – jika barang/uang sudah diserahkan dengan transaksi yang tidak sah, maka barang/uangnya tidak halal🔘Bentuk AkadBentuk akad dibagi menjadi 21️⃣Dengan kata-kata yaitu dengan ijab kata-kata yang diucapakan terlebih dahulu dan qabul kata-kata yang diucapkan kemudian2️⃣Dengan perbuatanContoh Saat jual beli rumah dimana pembeli memberi cek seharga sekian tanpa mengucapkan kata-kata saya membeli. Kondisi ini menunjukkan pembeli bersedia membeli rumah tersebut.– Jika akad terjadi dengan tidak ada catatan/tulisan dan kata-kata, maka khilaf para ulama. – Mayoritas ulama mengatakan sah kecuali mahzab Syafi’i menyatakan tidak sah karena tidak adanya ijab qabul yang menyatakan ridho – Pada dasarnya jika diucapkan baik oleh penjual dan pembeli maka sudah pasti ridho. Namun, tidak ada dalil yang menyatakan keridhoan harus dengan kata-kata. Apabila perbuatan sudah menunjukkan hal tersebut maka pada dasarnya lain Vending machine dimana tidak ada kata-kata dalam melakukan pembelian. Pemilik vendong machine menyewa tempat dan selalu memeriksa stok dan uang. Kondisi ini sudah pasti pemilik melakukannya dengan tujuan ridho menjual. Sedangkan pembeli memilih barang di vending machine sesuai dengan keinginannya yang menunjukkan pembeli melakukannya dengan tujuan ridho membeli. Dengan demikian karena perbuatannya sudah jelas ridho, maka akad ini sah.– Jadi akad dengan perbuatan ini sah seperti halnya akad dengan kata-kata, kecuali akad nikah dimana wajib dilakukan dengan kata-kata.🔘Soal Jawab1️⃣ Soal Mengapa pada persyaratan ta’liq kiyah harus meminta persetujuan kepada orang lain? Apa karena barang yang dijual bukan milik penjual?JawabSyarat saya jual barang milik saya dengan syarat orang tertentu misal istri menjual barang yang bukan miliknya, maka hal ini tidak diperbolehkan. Kalau rukun yang dilanggar dimana objek jualbeli harus dimiliki, maka tidak sah saat Fulan mau menjual rumah miliknya, tetapi ketika akan dijual perlu minta izin pada istri, anak atau mertua yang ikut tinggal di rumah tersebut. Jika langsung dijual tanpa izin, maka akan membuat hidup dengan keluarga jadi tidak Soal Jika melakuan jual beli terpaksa kan tidak sah hukumnya, bagaimana dengan barang tersebut? Terpaksa karena perasaan tidak enak jika tidak membeli barang milik teman walaupun sebenarnya tidak butuh barang Kondisi terpaksa adalah kondisi dimana berada di bawah tekanan yang membahayakan jiwa dan hartaJika beli karena kondisi kasihan atau tidak enakan bukan terpaksa jual beli muhabah mayoritas menyatakan sah dan tidak masuk dalam kategori terpaksaContoh mengenai kisah Ammar bin Yasir. – Ammar bin Yasir yang tuannya memaksanya kembali ke agama tuannya dengan siksaan yang kejam. Kemudian dia mengatakan kembali pada agama tuannya. Setelah itu Ammar bin Yasir menemui Rasul dan akhirnya turun firman Allah QS An-Nahl106– An-Nahl 106 مَن كَفَرَ بِٱللَّهِ مِنۢ بَعۡدِ إِيمَٰنِهِۦٓ إِلَّا مَنۡ أُكۡرِهَ وَقَلۡبُهُۥ مُطۡمَئِنُّۢ بِٱلۡإِيمَٰنِ وَلَٰكِن مَّن شَرَحَ بِٱلۡكُفۡرِ صَدۡرٗا فَعَلَيۡهِمۡ غَضَبٞ مِّنَ ٱللَّهِ وَلَهُمۡ عَذَابٌ عَظِيمٞ Barangsiapa yang kafir kepada Allah sesudah dia beriman dia mendapat kemurkaan Allah, kecuali orang yang dipaksa kafir padahal hatinya tetap tenang dalam beriman dia tidak berdosa, akan tetapi orang yang melapangkan dadanya untuk kekafiran, maka kemurkaan Allah menimpanya dan baginya azab yang besar.– Yang penting adalah hatinya tenang dengan permintaan dari pihak tertentu hanya bersifat ancaman, maka belum dianggap terpaksa. Namun, jika memang sudah dikenal kejam kemudian memberikan ancaman, maka bisa masuk kategori terpaksa dan boleh tetap tidak sah, baik uang yang diterima maupun barang yang diserahkan tidak sah. Misalkan harga pasar tanah 2jt/meter, kemudian dijual secara terpaksa daripada tidak ada uang yang diperoleh hanya 500rb/meter. Maka 500rb/meter tersebut halal dan sisanya tidak halal dan akan menjadi hutang pembeli yang akan dibayar di Soal Membeli pakaian ke reseller untuk dijual lagi. Jika sudah ada pesanan dari calon pembeli, baru kemudian memesan ke reseller dengan cash di depan dan langsung transfer. Reseller tersebut tidak memiliki barang dimanaApakah dengan pembayaran cash di depan ini artinya boleh melakukan penjualan ke calon pembeli? Dan apakah akadnya termasuk akad salam?Jawab Jika barangnya sudah ready stok, maka bisa dengan akad salam. Walaupun jika jaraknya pendek antara pembayaran dan serahterima barang, sebagian ulama menyatakan tidak Soal Membayar dengan lunas barang ready stok yang ada di marketplace yang dikirim 3 hari kemudian. Apakah termasuk bai’ Uang diserahkan di majelis akad atau tidak?Pembeli tutup aplikasi masiJika pembeli dan penjual masih berada di majelis misal via chatting dan kemudian pembeli transfer uang, maka diperbolehkan. Akan tetapi jika berpisah misal pembeli tutup aplikasi dan ke atm untuk bayar, maka tidak sah syarat juga barang bukan dgn spek yang ditunjuk. Misal jualbeli baju dimana pembeli menunjuk 1 baju tertentu yang diinginkannya, maka ini bukan jual beli salam tapi jual beli beli ain boleh kalo barang sudah menjadi milik penjual5️⃣ Soal Apakah boleh menjual barang siap jual/ready stok yang belum dimiliiki dengan alasan akad salam? Contoh membeli beras 1ton dan penjual berjanji dapat dipenuhi dalam 3 hari. Sementara pada saat akad penjual tidak memiliki 1ton di tokonya tetapi hanya uang diserahterimakan di majelis, maka bisa disebut akad salam. Tapi jika tidak diserahterimakan di majelis, maka termasuk jualbeli barang yang belum Soal Bagaimana hukum jual beli emas dengan vending machine? Pola transaksinya seperti umumnya vending machine yang memilih jenis emas yang diinginkan dan dibayar dengan kartu debit lalu keluar Untuk barang yang harganya mahal, sebagian ulama menyatakan tidak barang yang harganya relatif murah/tidak mahal, maka sepakat para ulama memperbolehkan kecuali mahzab membeli emas, maka juga harus ada sertifikat karena kalo tidak harganya bisa turun. Jika membeli barang seperti minuman, maka Soal Berapa lama jarak waktu penyerahan barang hingga layak disebut akad salam?Jawab Terdapat khilaf para ulama.– Dalam mahzab Syafii setengah hari sehari boleh – Jumhur ulama tidak memperbolehkan setengah atau satu hari karena pada zama Rasul jaraknya 1, 2, 3 tahun untuk mendapatkan kurma pada musim panen berikutnya. Pembelian dengan akad salam dilakukan pada saat belum musim kurma/tidak ada dasarnya tidak boleh menjual barang yang tidak dimiliki, akan tetapi Rasul dibolehkan karena penjual dan pembeli mendapat keuntungan, yaitu – keuntungan penjual mendapat uang untuk modal – keuntungan pembeli mendapat harga lebih murahJika hikmahnya tidak ada, maka tidak tercapai tujuan akad salam dan kembali ke hukum asalnya yaitu tidak boleh menjual barang yang belum karena itu terdapat perbedaan pendapat antara jarak transaksi akad dengan serahterima barang. Ada yang mengatakan 1 thn, 6 bulan, 3 bulan, 2 bulan atau yang paling pendek 1 bulan untuk dapat dikatakan sebagai dasarnya dinamakan salam jika waktu antara akad dengan serah terima barang menyebabkan perubahan harga. Kondisi ini menunjukkan terdapat manfaat bagi kedua belah pihak. Jika hanya jarak sehari maka tidak ada perbedaan harga dan sebagian ulama tidak memperbolehkan sementara mahzab Syafii menyatakan Soal Berbisnis dengan orangtua dimana modal diberikan orangtua dan keuntungan dibagi 2 dan kerugian juga dibagi 2 penjual rugi dalam bentuk pengelolaan yang tidak menghasilkan dan pemodal rugi tidak mendapat keuntungan apapunMisal modal 5juta, kemudian setelah akad alat komunikasi rusak. Pengeluaran 3 juta untuk alat komunikasi dan 2 juta untuk barang. Karena waktu yang sudah lama berjalan, kemudian orangtua sebagai pemodal minta dikembalikan uang sebesar 5jt Jika modal dari orangtua, kembalikan saja modalnya dan rugi menjadi tanggungan Soal Menjual kitab dan AlQuran dengan menerima order dari seorang pembeli dan kemudian penjual diminta langsung untuk mengirim kitab tersebut ke suatu tempat untuk diwakafkan. Dalam prosesnya, penjual meminta dari produsen/penerbit untuk kirim langsung ke akadnya jual beli, tidak boleh menjual jika belum memiliki dan menerima barang. Yang dapat diperbolehkan jika merubah akadnya sebagai perwakilan pembeli dan menerima ingin akad jual beli yang sah, maka penjual harus membeli dulu dari penerbit setelah mengetahui kebutuhan dari calon pembeli. Kemudian setelah terima barang dari produsen, baru kemudian menghubungi calon pembeli apakah jadi beli kitabnya atau tidak. Jika pembayaran dilakukan ketika barang sudah dalam kasus ini posisi penjual di Balikpapan, penerbit di Jakarta dan pembeli di Bandung, maka agar transaksinya sah, penjual dapat merubah akad sebagai wakil dari pembeli untuk kemudian melakukan jualbeli dengan penerbit.🔟 Soal Melakukan kerjasama dengan travel umroh dan mendapat pembiayaan dari bank syariah. Mekanismenya jamaah melakukan umroh dengan dibiayai dulu oleh bank. Kemudian pembayaran dilakukan dengan dicicil selama 5 bulan. Dalam pembayaraan tidak ada denda keterlambatan dan pembiayaan ini juga dicover dengan asuransi syariah untuk menghindari ketidakmampuan membayar. Apakah hal ini diperbolehkan?JawabKalau tidak ada denda keterlambatan maka Soal Apakah masih dibolehkan melanjutkan akad sebagai reseller dengan distributor yang pada saat mendaftar jadi reseller mensyaratkan pembayar di awal, apakah berdosa?Jawab Transaksi untuk menjadi member ini haram, adapun jualbeli selanjutnya tidak Soal Penanya melakukan penjualan berdasarkan pesanan, ketika ada yang pesan baru kemudian dibeli. Contoh barangnya hp, laptop dll. Permasalahannya jika terdapat permintaan barang yang spesifikasinya sulit. Untuk barang jenis ini, biasa dilakukan dengan meminta orang lain untuk mencarikannya dan kemudian dikasi uang transport. Bagaimana hukumnya apakah dibolehkan?barnag yang sulit didapatkan, solusinya ngajak diperbolehkan adalah dengan memberikan uang pada wakil untuk membelikan barang kondisi ini belum terjadi akad. Kemudian setelah barang dibeli oleh wakil, barang kemudian diserahkan ke penanya. Baru kemudian ditanyakan ke calon pembeli apakah jadi membeli barang atau tidak, jika tidak jadi maka itu menjadi resiko penanya.🔘PenutupMempelajari syariat Allah tidak cukup dengan berdasarkan logika. Kalau cukup dengan logika, maka Allah tidak akan mengutus hal-hal bisa dinalari sendiri ada yang berdasarkan syariat Allah. Rasulullah menjadi rahmatbagi kita semua dan akan menjadi rahmat bagi kita ketika kita mempelajarinya, adapun ketika kita berpaling atau tidak mau mengamalkannya maka akan menjadi dosa bagi kita di dunia dan akhirat.
- Transaksi jual-beli kredit terjadi saat barang diterima pada waktu transaksi dengan pembayaran tidak tunai dengan harga yang lebih mahal daripada harga tunai. Bagaimana islam memandang hal ini? Dikutip dari buku Harta Haram Muamalat Kontemporer karya Erwandi Tarmizi, Hakikat membeli barang secara kredit adalah membeli barang dengan cara berutang. Utang tidak dianjurkan dalam syariat Islam kecuali seseorang sangat membutuhkan barang tersebut dan ia merasa mampu untuk melunasinya. Maka tidak dianjurkan seorang muslim untuk membeli barang yang merupakan kebutuhan luks secara kredit. Anas bin Malik radhiyallahu anhu mengisahkan bahwa Nabi shallallahu alaihi wa sallam sering berdoa kepada Allah meminta perlindungan dari lilitan utang, dengan ucapan "Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari keluh kesah dan rasa sedih, dari kelemahan dan kemalasan, dari sifat bakhil dan penakut, dari lilitan utang dan laki-laki yang menindas. HR. Bukhari. Ketika ditanya kenapa beliau berlindung dari lilitan utang beliau menjawab, "Karena seseorang yang dililit utang, bila berbicara ia akan berbohong dan bila berjanji ia akan memungkirinya". HR. Bukhari. Dalil ini menunjukkan bahwa berutang tidak dianjurkan dalam Islam, kecuali seseorang dalam keadaan sangat membutuhkan. Sebagaimana diriwayatkan oleh Aisyah radhiyallahu anha, "Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam membeli bahan makanan dari seorang Yahudi dengan cara tidak tunai dan memberikan baju besinya sebagai jaminan". HR. Bukhari. Dalam hadits di atas digambarkan bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam berutang untuk menutupi kebutuhan pokoknya yaitu mendapatkan bahan makanan untuk diri dan keluarganya, bukan untuk barang mewah. Sungguh bertolak belakang sikap Nabi shallallahu alaihi wa sallam dengan sikap sebagian orang muslim yang terlalu mudah membeli barang secara kredit. Dengan demikian, bila seseorang sangat membutuhkan suatu barang dan diperkirakan ia mampu melunasinya, dibolehkan baginya membeli barang dengan cara kredit Qadhayaa Fil Iqtishad Wat Tamwil Islami, sekalipun harganya lebih mahal daripada harga tunai bila persyaratan lainnya terpenuhi. Jual beli kredit dibolehkan dalam Islam sebagaimana hasil keputusan Majma Al Fiqh Al Islami divisi fikih OKI, No. 51 2/6 1990, yang berbunyi, "Boleh melebihkan harga barang yang dijual dengan tidak tunai daripada dijual tunai ... dan harganya dicicil dalam jangka waktu yang ditentukan" Journal Islamic Fiqh Council. Juga fatwa dewan ulama kerajaan Arab Saudi, no fatwa 1178. Sebagian ulama kontemporer mengharamkan jual-beli kredit yang harganya lebih mahal dari harga tunai, pendapat ini dipopulerkan oleh Syaikh Al-Albani rahimahullah Silsilah Ahadits as Shahihah. Di antara dalil yang menjadi pegangan pendapat ini adalah, hadis Nabi shallallahu alaihi wa sallam yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah radhiyallahu anhu, "Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam melarang dua jual beli dalam satu jual beli". HR. Tirmizi. Di antara penafsiran bentuk dua jual beli dalam satu jual beli, yaitu penjual berkata, "Saya jual barang ini kredit dengan harga sekian dan tunai dengan harga sekian". Maka jual beli kredit termasuk dalam larangan ini karena harganya dua kredit sekian dan tunai sekian. Tanggapannya, dalil ini tidak kuat, karena bertentangan dengan dalil-dalil dari Alquran dan sunnah yang telah dijelaskan bahwa boleh menjual barang secara kredit dengan harga yang lebih mahal. Juga terdapat kesalahan dalam penafsiran makna hadits di atas, yang benarnya adalah, sebagaimana dikatakan oleh Ibnu Abbas radhiyallahu anhuma, "Seseorang boleh menjual barangnya dengan mengatakan, "Barang ini tunai harganya sekian dan tidak tunai sekian". Akan tetapi tidak boleh penjual dan pembeli berpisah melainkan mereka telah saling ridha atas salah satu harga" Mushannaf Ibnu Abi Syaibah. Dan juga imam Syafi'I berkata "Penjual berkata, "Aku jual budak ini jika tunai seharga seribu dinar dan jika kredit dua ribu, mana saja dari dua jual beli ini yang saya pilih atau engkau pilih maka akadnya menjadi lazim". Jual beli ini dilarang karena harganya tidak jelas" Mukhtashar Al Muzani. Dan juga Syu'bah, ia berkata, "Aku bertanya kepada Al Hakam dan Hammad tentang seorang laki-laki yang membeli barang dari seseorang, ia berkata, "Tunai harganya sekian dan tidak tunai harganya sekian. la berkata Jual-beli seperti itu boleh jika mereka berpisah dan telah menentukan salah satu harga". Syu'bah berkata, "Aku sampaikan jawaban tersebut kepada Mughirah, ia berkata, "Ibrahim An Nakha'i juga membolehkan hal tersebut jika mereka berpisah dengan telah menentukan salah satu harga" Mushannaf Ibnu Abi Syaibah. Juga sebagaimana dikatakan oleh Tirmizi setelah meriwayatkan hadis di atas, "Para ulama menafsirkan makna hadis ini, bahwa bentuk melakukan dua jual beli dalam satu jual beli, yaitu penjual berkata, "aku jual qamis ini, dengan harga 10 dinar tunai dan 20 dinar kredit. Lalu penjual dan pembeli berpisah sedangkan kesepakatan atas salah satu jual beli kredit atau tunai belum terjadi. Adapun bila mereka berpisah dan kesepakatan atas salah satu jual beli telah terjadi maka transaksi ini dibolehkan". Dari uraian di atas, maka pendapat yang membolehkan jual beli kredit adalah pendapat terkuat. Karena dalil pendapat yang melarang sangat lemah dan terdapat kesalahan penafsiran makna hadits. BACA JUGA Update Berita-Berita Politik Perspektif Klik di Sini
By Senin, 05 Mei 2014 pukul 810 pmTerakhir diperbaharui Rabu, 14 Mei 2014 pukul 1248 pmTautan Kajian fiqih kontemporer oleh Ustadz Dr. Erwandi Tarmizi, Berikut ini merupakan rekaman kajian agama Islam dari seri pembahasan Hal-hal yang Penting Diketahui oleh Pengusaha Muslim bersama Ustadz Dr. Erwandi Tarmizi, Kajian ini ditayangkan live di Radio Rodja dan RodjaTV pada Senin ba’da Maghrib, 6 Rajab 1435 / 5 Mei 2014 dari Masjid Al-Barkah, Komplek Rodja. Pembahasan ini diangkat dari kitab مالا يسع التاجر جهله. Pada pertemuan yang lalu telah disampaikan pembahasan mengenai Akad-akad Investasi Murabahah / Jual Beli Keuntungan dan pada pertemuan kali ini pemateri akan membahas tentang “Akad-akad Investasi Akad Jual Beli Salam“. [scstatus-hal-yang-penting-diketahui-setiap-pengusaha-muslim-ustadz-erwandi-tarmizi-2014] Ringkasan Kajian Fiqih Kontemporer dari Kitab “Hal yang Penting Diketahui setiap Pengusaha Muslim” Akad-akad Investasi العقود للاستثمار Akad Jual Beli Salam عقد السلم Akad-akad yang bisa digunakan untuk mengembangkan harta sangatlah beragam, ada akad syirkah, syirkah inan, syirkah abdan, akad mudharabah, dan ada juga akad murabahah, dll. Akad yang merupakan kebalikan dari akad murabahah adalah akad as-salam. Dan akad salam ini dibolehkan di dalam Islam, dimana uang diserahkan tunai pada waktu akad, sedangkan barang akan diberikan belakangan. Dan ini merupakan kebalikan dari akad murabah mu’ajjalah, yang mana dalam akad tersebut barang di depan, uang dicicil. Akad jual beli salam ini merupakan salah satu solusi dari akad riba, khususnya bagi orang-orang yang memiliki produksi. Dalil dari akad jual beli salam adalah firman Allah Subhanahu wa Ta’ala يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ إِذَا تَدَايَنتُم بِدَيْنٍ إِلَى أَجَلٍ مُّسَمًّى فَاكْتُبُوهُ “Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bermu’amalah tidak secara tunai untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kamu menuliskannya.” QS Al-Baqarah [2] 282 Sedangkan dalil jual beli salam dari As-Sunnah adalah sabda Nabi shallallahu alaihi wa sallam من أسلف في شيء فليسلف في كيل معلوم، ووزن معلوم، إلى أجل معلوم “Barangsiapa meminjamkan sesuatu maka hendaknya ia meminjamkannya dalam takaran, timbangan, dan masa tertentu.” HR Al-Bukhari dan Muslim Bagaimana penjelasan tentang jual beli salam ini? Dan apa saja syarat-syarat akad jual beli salam ini, agar bisa digunakan untuk mengembangakan harta kita? Silakan download kajian fiqih ekonomi Islam ini, dan simak penjelelasan dari Ustadz Erwandi Tarmidzi, mengenai permasalahan ini. Simak juga sesi tanya jawab yang sangat sayang jika dilewatkan. Semoga bermanfaat. Download Kajian Fiqih Kontemporer Ustadz Dr. Erwandi Tarmizi – Akad-akad Investasi Akad Jual Beli Salam Podcast Play in new window DownloadSubscribe RSS Raihlah pahala dan kebaikan dengan membagikan hasil rekaman ataupun link kajian Islam yang bermanfaat ini, melalui jejaring sosial Facebook, Twitter, dan Google+ yang Anda miliki. Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala membalas kebaikan Anda.
hukum jual beli saham ustadz erwandi